Surabaya (beritakota.net) Acara yang bertajuk Festival Rujak Uleg 2018 dalam rangka peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke 725 kembali digelar.

Festival Rujak Uleg yang akan digelar di kawasan Kembang Jepun tersebut, akan diikuti sebanyak 1500 peserta yang terbagi menjadi 275 grup, terdiri dari kelurahan/kecamatan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Surabaya, peserta umum, peserta dari hotel, serta tamu kehormatan dari dalam dan luar negeri.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, Irvan Widyanto mengatakan acara akan dilaksanakan pada hari Minggu 13 Mei 2018, yang dimulai pada pukul 14.00 WIB hingga selesai.

Menurutnya, yang berbeda dengan tahun lalu yakni akan ada pertunjukkan tarian-tarian yang akan meramaikan festival tahunan ini.

"Untuk tahun ini akan kita tambahi hiburan dengan Barongsai, reog serta penampilan tari-tarian tentang rujak uleg," kata Irvan, dalam jumpa pers di kantor Bagian Humas Pemkot Surabaya, Jumat (11/5/2018).

Dalam festival kali ini, Irvan menegaskan, Disbudpar juga akan melakukan beberapa sentuhan baru agar lebih menarik dan unik. Jika sebelumnya, untuk cobek yang digunakan berukuran sebesar 1,5 meter, maka untuk tahun ini akan diperbesar menjadi 2,5 meter.

Sementara untuk total hadiah, panitia telah menyiapkan total hadiah sebesar Rp 97,5 juta. Sebanyak 60 grup penampil terbaik (non rangking) masing-masing akan mendapatkan uang sebesar RP 1,5 juta yang akan dipotong pajak sebesar 15%.

"Kemudian juga, kita pilih lima penampil terbaik untuk kostumnya, itu juga masing-masing akan mendapatkan hadiah sebesar Rp1,5 juta," ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Satpol PP Kota Surabaya ini.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Subagio Utomo menyampaikan bahwa pihaknya bersama dengan Satlantas Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya akan menyiapkan rekayasa lalu lintas untuk memperlancar jalannya acara.

"Untuk pemasangan alat peraga akan dimulai pada Sabtu sore, sekitar pukul 17.00 WIB, atau setelah toko-toko di sekitar area Kembang Jepun tutup," terangnya.

Disampaikan Subagio, pihaknya juga mengimbau kepada para peserta yang akan melakukan loading alat agar bisa melewati jalur yang telah ditentukan.

Adapun jalur tersebut, ia menjelaskan, untuk nomor peserta 1-106 bisa loading alat masuk Jalan Kembang Jepun sisi Barat, selanjutnya nomor peserta 107-135 bisa masuk dari Pasar Atom-belok kanan kemudian lawan arus (contraflow) di Jalan Slompretan. Sedangkan untuk nomor peserta 136-275 bisa masuk melalui jalur dari Jalan Simpang - Jalan Kapasan - Jalan Kembang Jepun.

"Harapannya peserta tidak menumpuk disatu tempat yang akan menyulitkan untuk mengumpulkan bahan-bahan alat peraga mereka," tuturnya.

Disamping itu, untuk memperlancar jalannya acara, Dishub Surabaya akan menyediakan beberapa titik lokasi parkir bagi pengunjung, yang tersebar sekitar area festival. Adapun titik tersebut, kata Bagio. Dari arah barat pengunjung bisa parkir di Jalan Kembang Jepun pada sisi barat, Jalan panggung, Jalan Kalimati, dan Jalan Karet.

Sedangkan dari arah Timur, pengunjung bisa parkir di Jalan Husein. Sementara dari arah utara pengunjung bisa parkir di Jalan Slompretan.

"Kami dari Dinas Perhubungan bersama Polres Pelabuhan Tanjung Perak bagaimana untuk Festival Rujak Uleg ini bisa berjalan lancar dan para pengguna jalan lain, tidak merasa terganggu," tegasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat (BPB Linmas) Eddy Christijanto menambahkan untuk pengamanan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan menyiapkan sebanyak 105 anggota Linmas, 160 anggota Satpol PP, 100 anggota Dishub, dan 100 orang jajaran dari PMK. Selain itu, tiga mobil PMK dan dua mobil ambulan akan disiapkan untuk mendukung kondusifnya festival tahunan ini.

"Unit yang akan terlibat yakni dari Satpol PP, PMK dan Linmas nanti akan berjaga dari baris peserta dan penonton. Nantinya penonton akan dibatasi dengan tali rafia," kata dia.

Berdasarkan pengalaman dari tahun kemarin, Eddy mengungkapkan, panitia kesulitan dalam melakukan penjurian. Sebab menurutnya, kebanyakan penonton yang hadir berbaur menjadi satu dengan para peserta.

Hal itulah yang kemudian menjadi kendala juri dalam menentukan penilaian. Maka dari itu, untuk tahun ini pihaknya akan menerapkan aturan bahwa yang boleh masuk dalam lokasi acara, hanya peserta yang menggunakan Id card.

"Yang berhak masuk ke lokasi acara nanti hanya peserta yang menggunakan ID card, sedangkan yang bukan peserta tidak diperkenankan untuk masuk," pungkasnya. and.dan

 

Surabaya (beritakota.net) Dalam rangka menjaga ketertiban umum dan ketentraman masyarakat, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghimbau sekaligus melarang seluruh peserta Car Free Day (CFD) untuk menggelar kegiatan yang mengandung SARA dan kegiatan kampanye, pawai, tampilan gambar bermuatan politik yang sifatnya menghasut serta disebarkan secara umum.

"Peraturan ini berdasarkan Perwali Surabaya nomor 17 tahun 2018 pasal 4 ayat 1 huruf (i) agar tidak menyebarkan kebencian RAS dan orasi yang sifatnya menghasut saat kegiatan CFD berlangsung," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Agus Eko Supiadi di Kantor Humas Pemkot Surabaya, Jum'at, (11/5/2018).

Eko - sapaan akrabnya kembali menekankan, selama kegiatan CFD berlangsung pihaknya menertibkan siapapun (individu/kelompok) yang menggelar kegiatan berbau politik serta berunjuk rasa di area CFD manapun.

"Lokasi CFD di Surabaya tersebar di 8 lokasi diantaranya, CFD Jl Raya Darmo, Tunjungan, Jemursari, Kembang Jepun, Kertajaya, Jimerto - Jl. Sedap Malam, Ir Soekarno (Merr) dan Kupang Indah. Akan diterapkan di semua tempat," terang Eko.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Lingkungan Masyarakat (Linmas) Edi Christijanto mengatakan, apabila kedapatan kelompok yang melakukan hal semacam itu, maka pihaknya akan langsung menindak secara tegas. "Akan langsung ditertibkan oleh pihak kepolisian, Satpol PP, Linmas dan Dishub," tandas Edi.

Sedangkan, lanjut Edi, apabila terdapat beberapa kelompok yang menggunakan pakaian dengan simbol tertentu saat CFD, dirinya mengaku hal itu tidak menjadi masalah. Namun, kata Dia, jika sifatnya sudah menyebar dan melakukan orasi akan ditindak.

"Kalau simbol atau individu tidak apa-apa, tapi kalau ada kelompok yang menyuarakan atau mengajak orasi, langsung kami tertibkan," tegasnya.

Edi mengingatkan kepada seluruh komunitas yang ingin mengadakan acara di CFD harus meminta izin dan mendapat rekomendasi dari Dinas Lingkungan Hidup selaku penanggung jawab acara.

"Misalnya PAUD mengadakan acara jalan sehat. Nanti kita jelaskan apa yang boleh dan tidak boleh," terang Mantan Kepala Bagian Pemerintahan.

Ditanya, apakah selama ini pernah ada kelompok yang mendaftarkan untuk kepentingan politik, Edi secara tegas mengatakan tidak ada kelompok yang melakukan hal semacam itu.

"Sejak CFD diselenggarakan di Surabaya, tidak ada yang pernah melakukan kegiatan berunsur politik ataupun SARA," imbuhnya.

Selama CFD berlangsung, pihaknya bersama forum pimpinan daerah setempat (Forpimda) telah melakukan pengawasan terhadap setiap kelompok yang hendak melakukan kegiatan yang mengandung SARA dan politik.

"Kami sudah siapkan petugas-petugas untuk mengantisipasi hal semacam itu," pungkas Edi.

Adapun jika warga mendengar ujaran kebencian/SARA dan warga ingin melaporkan saat CFD, Edi menghimbau kepada warga untuk segera melaporkan ke petugas-petugas yang sedang bertugas seperti satpol pp, linmas, bakesbang dan DLH. "Kami letakkan setiap petugas di beberapa titik," tutur pria berkacamata itu. and.dan

Surabaya (beritakota.net) Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tengah melakukan kunjungan kerja ke Arab Saudi menghadiri undangan Raja Salman bin Albudaziz al-Saud. Wali Kota Risma bersama rombongan sudah berangkat mulai Senin-Kamis (7-10/5/2018).

Kabag Humas Pemkot Surabaya M. Fikser menjelaskan kunjungan Wali Kota Risma ke Arab Saudi untuk memenuhi undangan dari Secretary General King Salman Center for Local Government. Mereka mengundang Wali Kota Risma untuk berpartisipasi pada kegiatan First International Conference on Humanizing Cities 2018.

"Forum ini merupakan kegiatan konferensi internasional yang dihadiri oleh panelis, pejabat pemerintah, dan peneliti guna membahas upaya mewujudkan kota yang manusiawi dan bermartabat," kata Fikser yang mengawal Wali Kota Risma ke Arab Saudi, Kamis (10/5/2018).

Menurut Fikser, Wali Kota Risma baru saja menjadi pembicara dalam dua sesi. Pertama, sesi plenary konferensi internasional yang memaparkan materi terkait upaya mewujudkan kota yang manusiawi dan bermartabat.

Kedua, sesi panel yang membicarakan dan mendiskusikan tentang isu penting yang berkaitan dengan tema menciptakan kota yang manusiawi. "Hal inilah yangmenjadi kebutuhan dasar bagi warga untuk mendapatkan kenyamanan di kotanya," kata dia.

Fikser menjelaskan, kegiatan ini dapat dijadikan sebagai platform bagi para pemimpin daerah, pemegang kebijakan, peneliti, dan perwakilan pihak swasta untuk mendiskusikan upaya mewujudkan kota yang manusiawi dan kota yang layak huni sesuai kebutuhan dan keinginan warganya.

"Selain itu, kegiatan konferensi ini menjadi langkah awal dalam membuat road map untuk menciptakan kota-kota di Arab Saudi yang manusiawi dan bermartabat serta sejalan dengan visi transformasi negara tahun 2030," kata dia.

Fikser menjelaskan, pada saat menjadi pemateri itu, Wali Kota Risma memaparkan tentang berbagai pembangunan yang telah dilakukan di Kota Surabaya. Mulai dari pembangunan taman, infrastruktur jalan dan fasilitas olahraga, program pendidikan gratis, kesehatan, dan sistem e-Government di Pemkot Surabaya.

Wali Kota Risma juga membahas upaya Pemkot Surabaya dalam menyiapkan warganya untuk menghadapi dunia global. Salah satu yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya dan berjalan sudah lama adalah membangun rumah bahasa yang di dalamnya warga dan pelajar Surabaya bisa belajar bahasa yang diinginkan.

"Selain Rumah Bahasa, Bu Wali juga menjelaskan Rumah Matematika yang selalu digunakan oleh para pelajar untuk belajar berpikir logika secara menyenangkan," tegasnya.

Bahkan, Wali Kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu juga menjelaskan tentang pemberdayaan UKM, pemberdayaan perempuan dan anak muda serta penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan perhatiannya terhadap penyandang disabilitas. "Jadi, semua hal yang telah dibangun Bu Wali di Surabaya, dipaparkan dalam forum itu," tegasnya.

Melalui kunjungan itu, lanjut dia, maka rombongan Pemkot Surabaya dapat belajar tentang peran penting pemerintah daerah untuk mewujudkan kota yang manusiawi dan bermartabat. Bahkan, dapat mengetahui pengalaman terbaik dari kota-kota di Saudi untuk mewujudkan kota yang bermartabat dan sejalan dengan visi transformasi negara tahun 2030.

"Kita juga bisa mempelajari peran penting pemerintah daerah dan keterlibatan warga untuk bersama-sama mewujudkan kota yang manusiawi dan bermartabat serta berkomitmen membangun kehidupan yang layak," tegasnya.

Selain itu, rombongan dari Surabaya juga dapat berperan aktif dalam menyampaikan best practice pembangunan Kota Surabaya menuju kota yang cerdas, manusiawi, bermartabat dan berwawasan lingkungan.

"Yang paling penting pula, kita juga dapat meningkatkan jalinan kerjasama luar negeri dengan kota-kota yang berpartisipasi, terutama Arab Saudi," pungkasnya. and.dan

 

 

Surabaya (beritakota.net) Setelah kemarin malam rombongan dari delegasi organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nations Children`s Fund (UNICEF) disuguhkan dengan keindahan malam Kota Surabaya, dengan berkesempatan diajak menyusuri keindahan malam sungai kalimas.

Kali ini, para tamu UNICEF dan pemimpin daerah se-asia pasifik tersebut, berkesempatan diajak menikmati wisata Kampung Lawas Maspati Surabaya.

Sekitar pukul 14.00 WIB, rombongan tiba di Kampung Lawas Maspati. Saat akan memasuki kampung Lawas Maspati, rombongan langsung disambut oleh beberapa orang dengan pakaian adat, lalu satu persatu mereka kemudian dikalungkan sarung.

Menariknya, mereka kemudian dipandu oleh beberapa gaet anak-anak yang berasal dari kampung tersebut. Alunan musik patrol yang semarak dan rancak membuat kunjungan mereka kian terasa menyenangkan. Apalagi di hampir tiap rumah ditanami oleh berbagai macam tanaman hias serta pepohonan menjadikan kampung ini terasa sejuk.

Selama dalam perjalanan, mereka disuguhkan dengan pemandangan eksotis bangunan Kota Surabaya pada tempo dulu. Selain melihat bangunan bersejarah, mereka juga melihat kegiatan warga dan anak-anak, seperti proses daur ulang sampah, posyandu balita dan Sekolah ongko loro (angka dua), sekolah desa di masa pendudukan Belanda.

Direktur Regional UNICEF se-asia pasifik Karin Hulshof mengatakan dirinya sangat terpukau dengan adanya kampung tempo dulu yang masih bertahan.

Apalagi ditengah Kota Metropolitan  seperti Surabaya ini, dengan kondisi bangunan yang masih terawat dan berbagai permainan tradisional anak yang masih terjaga.

"Menurut saya ini sangat menarik sekali, ada sekolah tempo dulu, juga beberapa bangunan jaman dahulu yang masih terawat sampai sekarang. Saya sangat senang berada disini, benar-benar sangat mengesankan untuk dilihat," kata dia, saat berkeliling di Kampung Lawas Maspati Surabaya, Selasa, (8/5/18).

Kehadiran delegasi Unicef di Kampung Lawas Maspati mendapat respon tersendiri dari Ketua RW 08 Kampung Maspati Sabar Swastono, ia bersama warga masyarakat pun cukup antusias menyambut kedatangan tamu istimewa ini.

Tak lupa produk-produk unggulan UKM di kampung ini juga ditampilkan kepada para tamu istimewa ini. Seperti produk olahan sirup markisa dan minuman cincau.

"Yang jelas dengan kedatangan tamu ini, pastinya kampung kami akan lebih dikenal. Selain itu, dengan datangnya tamu ini pastinya mereka akan bercerita kepada kawannya, atau mengajak teman maupun keluarga untuk kembali berkunjung kesini kembali," terangnya.

Sekitar 1 jam lebih rombongan berkeliling di kampung yang dihuni 375 anggota Keluarga (KK) ini. Mereka pun terlihat begitu puas dan senang melihat bangunan-bangunan tua yang berdiri di tengah perkotaan.

Diakhir kunjungannya, kemudian mereka menyempatkan untuk menikmati beberapa produk makanan dan minuman unggulan dari UKM (Usaha Kecil Menengah) Kampung Lawas Maspati ini.

Jalan-Jalan ke Gedung Siola
Pasca mengunjungi kampung lawas maspati, delegasi Unicef beranjak ke Gedung Siola. Di sana, mereka meninjau fasilitas yang ada di Siola seperti Puspaga, command center room 112 dan co-working space atau biasa disebut Koridor.

Tiba di siola tepat pukul 4 sore, rombongan diperlihatkan sekaligus dijelaskan manfaat dan fungsi pelayanan puspaga yang berada di gedung Siola lantai 2.

Beberapa delegasi Unicef terlihat serius penjelasan dari petugas Puspaga salah satunya Debora Comini perwakilan asal Kamboja. "Fasilitas ini tidak ada di kamboja dan ini harus diterapkan disana (Kamboja)," ungkap Debora.

10 menit mengitari pusat pelayanan anak, rombongan beranjak ke Command Center Room 112. Disana mereka melihat sistem kerja yang dikonsep Wali Kota Risma untuk memudahkan masyarakat melaporkan suatu kejadian sekaligus memantau arus lalu lintas di setiap titik menggunakan teknologi canggih.

Tran Ngoc Son selaku Deputy Chief of HCMC Child Care and Protection Commmitee memuji konsep CC Room 112 yang dirancang oleh Wali Kota Risma. Bahkan, dirinya mengaku telah memikirkan hal semacam ini untuk negaranya.

"Sudah terkonsep, tapi belum terealisasikan dengan berbagai macam pertimbangan. Secepatnya kami akan belajar sekaligus berdiskusi dengan Surabaya untuk mewujudkan hal ini," ujarnya.

Hal senada disampaikan Dameria selaku Head of Department of Women Empowerment and Child Protection Dumai, Riau. Dia sangat takjub dengan perubahan Kota Surabaya. Sebab, kata Dia, meskipun Wali Kota Risma tidak ada di Surabaya, beliau dapat memantau kinerja karyawannya melalui gadgetnya. "Itu baru pemimpin yang bertanggung jawab," kata Dameria.

Puas melihat kondisi kerja di Command Center 112, rombongan mendatangi coworking space atau koridor yang terletak di lantai 3. Di dalam koridor, Delegasi tidak canggung menyapa pengunjung yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Terlihat, mereka mengamati gambar-gambar pahlawan Surabaya dan Indonesia di masa kemerdekaan serta tulisan motivasi dari para pejuang dan sastrawan Indonesia.

Debora Comini perwakilan UNICEF untuk Kamboja terlihat antusias menanyakan gambar serta melakukan foto dengan background kalimat atau gambar pahlawan Indonesia. "Tempat yang sangat bagus untuk anak-anak muda menuangkan kreatifitasnya disini," tutur perempuan asli Italia tersebut.

Hal serupa juga diungkapkan Mark perwakilan Unicef dari negara Perancis. Dia menyampaikan bahwa ini adalah wadah yang luar biasa karena anak-anak muda dapat meningkatkan skill sekaligus menerapkan di kampus maupun tempat pekerjaannya. "Pengalaman pertama menginjakkan kaki di koridor. Sangat luar biasa," pesan Mark.

Perlu diketahui, hari ini merupakan hari terakhir rombongan Unicef berada di Surabaya. Dua hari, mereka melakukan diskusi bersama wali kota dan pakar tata kota dari 10 kota di Asia Timur dengan membahas kota layak dan ramah bagi anak-anak di masa depan. and.dan


Surabaya (beritakota.net) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) kembali menggelar Jambore Sepeda Tua untuk keenam kalinya bersama Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI).

Acara yang menjadi bagian dari serangkaian Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-725 itu dilaksanakan di Sentra Ikan Bulak (SIB), Kenjeran pada 12-13 Mei 2018 dengan tema ''Beach Onthel Merah Putih''.

Kepala Bidang (Kabid) Olahraga Kota Surabaya, Arief Setia Purwanto mengatakan, alasan dipilihnya SIB sebagai tempat jambore sepeda tua karena pihaknya ingin mengangkat pariwisata, meramaikan wilayah SIB serta menjalin tali persaudaraan antar komunitas sepeda tua Indonesia.

''Usulan teman-teman KOSTI tahun kemarin yang meminta jamboree sepeda tua dilaksanakan di SIB karena pemandangannya bagus sekaligus mempromosikan kawasan SIB,'' kata Arief saat menggelar jumpa pers di Kantor Humas Pemkot Surabaya, Selasa, (8/5/2018).

Disampaikan Arief, bagi warga yang berminat mengikuti acara ini namun tidak memiliki sepeda, panitia menyediakan sepeda onthel seharga Rp50 ribu dengan jaminan KTP.

''Bagi masyarakat yang tertarik bisa mendaftar ke sekretariat KOSTI bertempat di Tambaksari Surabaya dan mengambil sepeda pada hari Sabtu,'' terangnya.

Nantinya, kata Arif, acara yang secara resmi dibuka Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini akan menyediakan doorprize berupa kulkas, tv dan beberapa aksesoris sepeda tua seperti bel, veleg, rantai dan stir sepeda serta uang pembinaan bagi juara 1, 2, dan 3 masing-masing kategori kelompok dan perorangan.
 
Sementara itu, Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia, Slamet Mulyono menyampaikan, jumlah peserta yang datang tahun ini lebih banyak dari tahun kemarin. Pasalnya, beberapa wilayah luar Jatim bahkan luar negeri turut memeriahkan acara ini.

''Tahun kemarin ada peserta dari Malaysia dan Singapura dengan jumlah mencapai 2.500 peserta. Tahun ini kami optimis 3 ribu peserta,'' ujar Slamet.

Saat ini, lanjut Slamet, peserta yang telah mendaftar dari luar Jawa Timur meliputi, Palangkaraya, DKI Jakarta, Cikarang Kebumen, Bekasi, Lombok Barat, Sulawesi Barat Kabupaten Majene. Sedangkan kab/kota Jawa Timur yang sudah mendaftar berasal dari Ngawi hingga Banyuwangi.

''Untuk Kebumen sudah melakukan perjalanan sejak kemarin,'' tuturnya. Slamet atau yang akrab disapa pak rete menambahkan, untuk sosialisasi pihaknya telah membagikan selebaran saat menghadiri event sepeda di beberapa kota seperti Malang, Mojokerto, Kediri, Blitar dan Bali.

Selain itu, memberitahukan secara langsung kepada setiap komunitas sepeda tua di berbagai wilayah. ''Saya yakin, respon komunitas sepeda tua tidak perlu diragukan lagi,'' tandasnya.

Sedangkan rute perjalanan, Slamet menjelaskan, start akan dimulai dari Sentra Ikan Bulak - Jalan Kenjeran - Karang Asem - Kapas Krampung - Tambaksari (stadion gelora sepuluh November) - Ambengan - Kusuma Bangsa - Kaliondo lalu kembali lagi ke arah kenjeran - Suramadu dan finish di SIB.

''Jarak tempuh sekitar 20,78 km dengan estimasi waktu 2 jam. Khusus di Tambakasari, panitia akan membagikan minuman kepada peserta,'' jelasnya.

Dikarenakan jumlah peserta mencapai 3 ribu orang dari berbagai macam komunitas dan wilayah, Slamet bersama Dispora telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan, Kepolisian Lalu Lintas dibantu Satpol PP dan Linmas untuk mengatur sekaligus mengamankan selama kegiatan berlangsung. ''Sudah kami bicarakan dengan pihak-pihak terkait,'' pungkasnya. and.dan


Surabaya (beritakota.net) Delegasi dari salah satu organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nations Children`s Fund (Unicef) kembali menikmati keindahan Kota Surabaya.

Kali ini, delegasi Unicef menyusuri sungai kalimas menggunakan perahu mulai dari Monumen Kapal Selam (Monkasel) dan berlabuh di dermaga Siola, pada Senin malam, (7/5/2018).
 
Tiba di Monkasel pukul 19.15 WIB, rombongan disambut musik patrol, kemudian berjalan menuju dermaga monkasel. Para delegasi kemudian menggunakan rompi orange bersiap melakukan perjalanan. Mereka tampak antusias dan ceria saat menaiki perahu. "Ini akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan bagiku," kata Rana Flowers perwakilan Unicef asal China.
 
Selama perjalanan, para delegasi benar-benar menikmati keindahan sungai dibalut lampu hias dengan aneka macam rupa dan warna, seperti yang diungkapkan Wali Kota Zamboanga (Filipina), Maria Climaco Isabella.

Dirinya mengaku senang dan sangat terhibur dengan wisata air yang ada di Surabaya. "Sangat cantik dan indah apalagi melihat lampu-lampunya," ungkap Maria.
 
Bahkan, para delegasi tidak canggung menyapa warga Surabaya yang berdiri di pinggir sungai sembari melambai-lambaikan tangan. "Saya sangat senang dan menikmati perjalanan singkat ini," ujar Maria sambil tersenyum.  
 
Seperempat jam menyusuri sungai kalimas, delegasi Unicef akhirnya tiba di dermaga Siola. Di sana, rombongan disuguhi makanan dan minuman milik produk UKM binaan Pemkot Surabaya. Terlihat bagaimana mereka sangat menikmati hidangan minuman dan makanan tersebut. "Saya suka dengan traditional food," kata Debora Comini selaku perwakilan Unicef asal Kamboja.  
 
Sembari menikmati minuman pelaku UKM dan jajanan khas Surabaya, beberapa delegasi turut memeriahkan sekumpulan anak-anak SD yang sedang bernyanyi dan bergoyang menggunakan kostum daur ulang sampah.

Mao Pan selaku petugas kemitraan Unicef tak malu untuk bergoyang bersama anak-anak tersebut. "Mereka sangat lucu dan kreatif," celetuk Mao.
 
Lebih lanjut, para delegasi Unicef yang juga berinteraksi langsung bersama warga Surabaya melihat berbagai macam hiburan yang telah disediakan oleh Pemkot Surabaya.
 
Kehadiran delegasi Unicef di Surabaya mendapat respon positif dari beberapa netizen. Berdasarkan pantauan pada akun facebook banggasurabaya, para netizen memuji kepemimpinan Wali Kota Risma yang dinilai mampu mengangkat nama Surabaya dan Indonesia.

Seperti yang diungkapkan @Zuhdi A. Setiawan, "konsep water front city serta pemanfaatan kanal-kanal di Surabaya sebagai akses transportasi air sangat mendukung program eco city dan smart city".
 
Adapula akun twitter bernama @Nonn_Rbumi_Pras yang turut membantu untuk menyebarkan acara di tunjungan tadi malam. "Suasana di Jl. Tunjungan Surabaya sore tadi. Yang nanti malam akan digelar acara "Growing Up Urban Summit 2018" yang dihadiri Wali Kota se-asia pasifik. Keren Surabayaku - Bersih Surabayaku. #BanggaJadiWargaSurabaya".
 
Seperti diketahui, pertemuan bertajuk Growing Up Urban Summit yang dihadari para wali kota, gubernur dan pakar tata kota dari 10 kota di Asia Timur berakhir hari ini (8/5). Nantinya, mereka akan membahas upaya dalam mengatasi urbanisasi pada anak-anak sehingga ke depan menjadi kota layak dan ramah bagi anak-anak. and.dan

Surabaya (beritakota.net) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Afiliansi Pedagang Indonesia (Alpindo) mendeklarasikan terbentuknya kepengurusan sekaligus melakukan pengesahan kepengurusan untuk 20 wilayah (DPD) se Jatim, Minggu (6/5/2018).

Acara deklarasi ini dipimpin langsung oleh Siti Rumiyati SH selaku Ketua Umum Alpindo, dengan maksud dan tujuan membantu eksitensi pedagang terutama untuk kelas menengah ke bawah agar bisa turut mendongkrak putaran perekonomian untuk wilayah Jatim dan nasional.

"Misi kami membangun NKRI dengan kekuatan ekonomi. Deklarasi ini sebagai langkah awal dalam menjalankan roda organisasi. Anggota kami yang sudah tercatat sekitar 1500 anggota, namun belakangan mulai banyak tambahan dan saya perkirakan bisa mencapai 5000 an anggota," ucap Siti Rumiyati SH kepada awak media.

Latar belakang terbentuknya Alpindo, kata Bu Tomy, selama ini hak warga negara yang berprofesi sebagai pedagang belum diperhatikan secara maksimal, karena masih dibukanya pintu usaha bagi permodalan asing.

"Contoh kongkritnya keberadaan pasar modern yang menjamur, jujur kami akui jika pedagang kecil kalah bersaing dengan mereka, maka hal inilah yang akan kami perjuangkan," terangnya.

Tidak hanya itu, lanjut Siti Rumiyati, kepengurusan Alpindo juga sudah mulai terbentuk di beberapa daerah, seperti di Jakarta, Sulawesi Utara, dan Aceh. "Namun disana masih berupa embrio karena kepengurusannya masih dalam proses pembentukan," terangnya.

Menurut Bu Tomy-sapaan akrab Siti Rumiyati, organisasi barunya ini sedang berupaya untuk menggandeng Perbankan agar bisa memberikan dukungan modal bagi usaha para pedagang kecil menengah.

"Perbankan adalah mitra kerja kami sebelum organisasi ini terbentuk, untuk Surabaya kami telah melakukan loby dengan Bank jatim, oleh karenanya kami sangat optimis dengan keberadaan organisasi ini akan semakin diperhatikan, khususnya untuk permodalan," tutupnya. and


Surabaya (beritakota.net) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memenangkan gugatan pada tahap pertama, atas sengketa kepemilikan lahan yang berlokasi di Jalan Ngagel no. 153-155 Surabaya.

Lahan yang dulunya digunakan untuk memproduksi pabrik gelas, yakni bangunan PT. IGLAS (Persero) akhirnya kembali dikuasai oleh Pemkot Surabaya. Gugatan tersebut dilayangkan pada tanggal 26 Mei 2017, dengan nomor perkara 394/PDT.G/2017/PN.SBY.

Asisten I Bidang Pemerintahan Sekretariat Kota (Sekkota) Surabaya, Yayuk Eko Agustin mengatakan gugatan atas lahan seluas 12.360 meter persegi yang tengah dikuasai oleh PT. IGLAS tersebut, akhirnya dimenangkan oleh Pemkot Surabaya.

Dimana amar putusan menyatakan, pertama bahwa obyek gugatan yang berlokasi di Jalan Ngagel no 153-155 adalah aset Pemkot Surabaya. Kedua, menyatakan bahwa penerbitan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) no 128 atas nama PT. IGLAS (Persero) tidak mempunyai kekuatan hukum dan dinyatakan batal.

Dan ketiga, memerintahkan kepada PT. IGLAS atau siapa saja yang menguasai lokasi tersebut untuk segera dilakukan pengosongan terhadap semua obyek kegiatan.

"Sidangnya selesai pagi ini (07/05), untuk prosesnya memang lumayan lama. Namun dengan rahmat Tuhan, akhirnya gugatan Pemkot Surabaya dikabulkan oleh  pengadilan negeri Surabaya untuk kasus ini," kata Yayuk, saat menggelar jumpa pers di Kantor Bagian Humas Pemkot Surabaya, Senin, (07/05/18).

Disampaikan Yayuk, setelah pihaknya memenangkan gugatan tahap pertama, pengadilan negeri Surabaya masih memberikan waktu selama 14 hari kepada pihak tergugat, apakah akan menyatakan banding atau tidak. "Kita masih menunggu dalam jangka waktu 14 hari, apakah mereka akan menyatakan banding atau tidak," jelasnya.

Sebelumnya, kata dia, lahan yang menjadi sengketa tersebut bermula ketika pihak tergugat menyewa lahan yang berlokasi di Jalan Ngagel No 153-155 Surabaya pada tahun 1979.

Namun kemudian berganti nama perusahaan dengan status ijin pemakaian tanah tanpa sepengetahuan pihak Pemkot Surabaya. Selanjutnya pada tahun 2004, tiba-tiba muncul sertifikat HGB atas nama PT. IGLAS.

"Dulu awalnya mereka menyewa dan kemudian beralih fungsi dan kepemilikan. Namun tahun 2004 muncul sertifikat HGB atas tanah tersebut," terangnya.

Kedepan, Yayuk menegaskan, setelah memenangkan gugatan, Pemkot Surabaya berencana akan memanfaatkan lahan seluas 12.360 meter persegi tersebut untuk fasilitas umum. Seperti bangunan gedung Kantor Kecamatan Wonokromo, taman bermain untuk anak, lapangan olahraga dan rumah susun.

"Sementara untuk rencana anggaran pembangunan, nantinya akan kami kaji kembali," imbuh perempuan berkerudung ini.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya M. Fikser menambahkan selama kepemimpinan Wali Kota Risma, Pemkot Surabaya terus berjuang untuk mempertahankan asetnya, yang mempunyai nilai arti bagi masyarakat Surabaya.

"Beliau (Wali Kota Risma) saat ini juga terus berupaya dalam mempertahankan aset-aset Pemkot yang tengah dikuasai oleh pihak lain," pungkasnya. and.dan



Surabaya (beritakota.net) Pemerintah Kota Surabaya sudah merapatkan barisan untuk selalu menstabilkan harga bahan pokok menjelang Bulan Ramadan, di Bulan Ramadan hingga lebaran Idul Fitri 2018 ini.

Pemkot juga menjamin ketersediaan bahan pokok strategis, bahkan pemkot juga terus menggalakkan operasi pasar mulai tanggal 10 Mei-10 Juni 2018.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Joestamadji menjamin stok semua bahan pokok di Kota Surabaya aman hingga lebaran.

Namun begitu, ia mengaku sudah berkoordinasi dengan semua pihak, baik Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Perusahaan Daerah, distributor kebutuhan pokok untuk terus bersinergi menstabilkan harga bahan pokok selama Bulan Ramadan, karena biasanya ada lonjakan harga.

"Kami di Pemkot sudah membuat tim untuk pengendalian harga selama Bulan Ramadan. Kami juga sudah tergabung dengan Satgas Pangan yang dipimpin oleh Polrestabes Surabaya. Kolaborasi ini sama-sama ingin menstabilkan harga selama Bulan Ramadan," kata  Joestamadji saat jumpa pers di Kantor Humas Pemkot Surabaya, Senin (7/5/2018).

Selain itu, jajaran Pemkot Surabaya akan menggalakkan operasi pasar murah mulai tanggal 10 Mei-10 Juni 2018. Operasi pasar ini akan digelar di 62 titik di 31 kecamatan se Kota Surabaya.

"Melalui berbagai cara ini, diharapkan tidak ada lonjakan harga kebutuhan pokok selama Bulan Ramadan nanti. Ia juga meminta kepada masyarakat untuk memanfaatkan operasi pasar ini, sehingga semua kebutuhannya dapat terpenuhi," tegasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan Kota Surabaya, Wiwiek Widayati mengatakan pihaknya siap mendukung operasi pasar yang akan digelar di 62 titik di 31 kecamatan se-Kota Surabaya.

Apalagi, selama ini pihaknya sudah sering dan rutin menggelar operasi pasar, sehingga akan lebih mudah dalam menggelar operasi pasar kali ini.

"Sejak Bulan Januari, kami rutin menggelar operasi pasar, hingga saat ini sudah ada 300 titik operasi pasar selama Bulan Januari-Mei ini. Kami juga siap mendukung operasi pasar di Bulan Ramadan ini," kata Wiwiek.

Melalui pengalaman operasi pasar yang sudah digelar di 300 titik itu, maka Dinas Perdagangan akan menentukan titik-titik operasi pasar yang akan digelar Pemkot Surabaya pada 10 Mei-10 Juni 2018. Titik operasi itu, akan diletakkan di lokasi-lokasi yang memang dibutuhkan oleh masyarakat.

"Kami sudah berkoordinasi dengan distributor besar, terutama sembilan kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat. Selain itu, kami juga sudah sidak ke pasar dan kami kontrol harganya setiap hari bersama PD Pasar Surya," tegasnya.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha MikroWidodo Suryantoromemastikan siap mendukung operasi pasar yang akan menstabilkan harga selama Bulan Ramadan. Bahkan, ia mengaku sudah berkoordinasi dengan IKM dan UKM untuk turut serta mengikuti operasi pasar yang akan digelar di 62 titik di 31 kecamatan se Kota Surabaya.  

"Nanti kami akan gerakkan IKM dan UKM untuk turut serta dalam operasi pasar ini, karena sebagian besar diantara mereka menjadi distributor besar," kata Widodo.

Ia mencontohkan koperasi pertamina yang menjadi salah satu distributor LPG melon. Dengan mengikutsertakan mereka, maka diharapkan harga LPG melon bisa stabil, syukur-syukur bisa lebih murah dibanding di pasaran.

"IKM dan UKM insyallah juga sudah siap mengatasi masalah-masalah lonjakan harga dan kebutuhan pokok selama Bulan Ramadan," ujarnya.

Sementara itu, perusahaan daerah (PD) milik Pemkot Surabaya juga siap mendukung operasi pasar untuk menstabilkan harga selama Ramadan. Salah satunya, PD Rumah Potong Hewan yang memastikan sudah menyiapkan daging-daging segar untuk dijual selama Bulan Ramadan.

"Kami siap mendukung operasi pasar di 62 titik di 31 kecamatan. Kami juga menjual daging segar di kantor RPH Jalan Pegirian, mulai pukul 08.00-21.00 Wib. Selama Bulan Ramadan ini, kami sengaja memperpanjang penjualan daging di kantor, supaya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Surabaya," kata Direktur Jasa dan Niaga PD RPH, Bela Bima Ferial Java saat jumpa pers.

Direktur Teknik PD Pasar Sura Zandi F mengaku terus berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan untuk mengontrol lonjakan harga di pasar-pasar Surabaya. Bahkan, setiap hari dia mengaku selalu memberikan laporan estimasi harga yang ada di pasaran.

"Selain itu, kami juga selalu berusaha menggelar bazar atau operasi pasar yang lebih dekat dengan para konsumen," tegasnya. Hingga saat ini, lanjut dia, belum ada kenaikan harga sembako di Kota Surabaya.

Pantauan PD Pasar Surya, harganya lumayan stabil beberapa hari ini. Meskipun, daging sapi ada kenaikan harga sekitar Rp2 ribuan, tapi itu masih masuk kategori normal dan stabil. "Semoga ini terus berlanjut hingga lebaran," pungkasnya. and.dan


Surabaya (beritakota.net) Pada 2030, sekitar 30 persen anak di Asia Timur - atau 800 juta anak - akan tinggal di perkotaan. Kehidupan dan masa depan mereka bergantung pada bagaimana lingkungan urban dapat mendukung perkembangan dan pertumbuhan anak-anak ini.

Untuk mendiskusikan cara menjadikan kota lebih aman dan lebih lestari bagi anak-anak, Wali Kota, Gubernur dan pakar tata kota dari 10 kota di Asia Timur berkumpul di Surabaya, Indonesia, dalam pertemuan yang bertajuk Growing Up Urban Summit.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan bahwa selama ini orang-orang di suatu kota kebanyakan berbicara tentang pembangunan infrastruktur maupun ekonomi.

Menurutnya, sangat jarang sekali orang untuk berdiskusi tentang hak-hak atas anak. Maka dari itu, dengan adanya pertemuan ini bertujuan untuk bagaimana merumuskan masa depan suatu bangsa. Karena, masa depan suatu bangsa ada keterkaitan kota dengan tumbuh kembangnya anak.

"Melalui pertemuan ini, kami berharap dapat mendiskusikan berbagai persoalan yang dihadapi perkotaan dalam upaya menciptakan lingkungan yang aman dan ramah untuk anak-anak," kata Walikota Surabaya Tri Rismaharini ketika ditemui di Hotel JW Marriot, Senin, (07/05/2018).

Menurutnya, permasalahan suatu anak sifatnya sangat komplek sekali. Misalnya, ketergantungan anak dengan orang tua, dan lingkungan sekitarnya pastinya sangat besar sekali. Karena itu, dengan adanya pertemuan ini diharapkan bisa berpengaruh bagaimana kedepan merumuskan suatu kota agar layak terhadap anak.

"Ini merupakan kesempatan yang langka bisa mengumpulkan wali kota dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman yang diharapkan bisa menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi satu sama lain di masa mendatang," ujarnya.

Direktur Regional UNICEF se-asia pasifik, Karin Hulshof mengatakan pertemuan yang didukung UNICEF ini meliputi diskusi dampak dari urbanisasi terhadap dua periode pertumbuhan anak, yang utama yaitu di masa awal dan remaja, serta cara-cara inovatif untuk memastikan kota ramah anak untuk semua, terutama mereka yang hidup dalam kemiskinan.
 
Melalui pertemuan ini, lanjutnya, para wali kota juga akan merancang visi untuk perencanaan kota yang memastikan perkotaan tumbuh dengan inklusif, serta bagaimana menyediakan peluang serta manfaat bagi setiap anak yang tinggal disana.

"Masa depan bagi ratusan anak di Asia Timur adalah kota besar. Kawasan ini sangat urban yang menjadi rumah bagi tujuh dari 10 kota terpadat di dunia," kata Karin.

Dipilihnya Kota Surabaya sebagai tuan rumah pertemuan kota layak anak, Karin menegaskan melihat banyak program-program tentang kepedulian terhadap anak yang telah digagas oleh Wali Kota Risma Surabaya membuat Kota Surabaya menjadi pilihan utama dijadikan pertemuan 10 negara yang tergabung dalam anggota UNICEF ini.

"Penunjukan Surabaya sebagai tuan rumah, karena melihat kota ini sangat pantas. Banyak sekali program-program di Surabaya yang berkaitan dengan anak," jelasnya.

Sementara itu, Gunilla Olsson, Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia menuturkan Kota yang aman dan lestari juga pilar penting bagi Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) PBB. Sebuah seruan universal oleh pimpinan negara-negara di dunia pada 2015 untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet dan memastikan semua orang menikmati perdamaian dan kemakmuran.

"UNICEF juga berharap melalui pertemuan ini akan membantu antara satu dengan yang lain dan berbagi informasi saling sharing pengalaman dalam implementasi kota layakanak," terangnya.

Tujuan 11 dari TPB adalah menjadikan kota inklusif, aman, berdaya lenting (resilient) dan lestari. Menuntut semua pemangku kepentingan untuk menjawab resiko-resiko perkotaan seperti polusi, kecelakaan lalu lintas, narkotika dan ketidak-terjangkauan dari layanan-layanan dasar kesehatan, pendidikan dan perlindungan sosial anak.

"Pertemuan ini menunjukkan dedikasi Ibu Risma untuk mewujudkan hak anak dan remaja di Surabaya, Indonesia dan seluruh dunia," kata Gunilla Olsson, Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia.
 
Keliling Naik Bus Suroboyo
Sebelum menggelar diskusi, rombongan UNICEF menjajal Bus Suroboyo ketika hendak melakukan welcome dinner bersama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada Minggu, (6/5/2018) di lobby lantai 2 Gedung Balai Kota Surabaya.

Rombongan, diajak berkeliling menikmati keindahan Kota Pahlawan mulai Tugu Pahlawan - Indrapura -Rajawali - JMP - Veteran - Kramat Gantung - Gemblongan - Tunjungan - Gubernur Suryo lalu tiba di Balai Kota.  
 
Selama perjalanan, rombongan dengan total keseluruhan mencapai 105 orang dari berbagai negara itu selalu bertanya, mengapa setiap penumpang yang akan naik bus Suroboyo harus membayar menggunakan sampah plastik seperti diungkapkan Wali Kota Myanmar, Mr. Maung Soe.

"Kenapa sistem pembayarannya menggunakan sampah palstik, tapi setelah dijelaskan ternyata Surabaya ingin zero wash dan itu ide yang sangat bagus," ujarnya.
 
Sementara itu Wali Kota Myanmar, Maung Soe juga menilai, Wali Kota Risma sangat serius membangun kotanya dan dianggap sebagai sosok pemimpin yang ramah kepada masyarakatnya.

"Layak dan patut ditiru oleh pemimpin dan calon pemimpin yang lain utamanya dalam hal pembangunan kota," ungkapnya.
 
Berbeda dengan Wali Kota Zamboanga (Filipina), Maria Climaco Isabella yang memuji warna dan lambang berhuruf B (Bangga Surabaya) di bangku bus serta tulisan Sura&Baya. "Mengapa boyo, kok tidak baya saja," tanya Maria.
 
Kendati demikian, Maria Isabella atau yang akrab dipanggil Mr. Beng merasa nyaman ketika duduk dan melihat fasilitas yang ada di dalam bus suroboyo itu.

"Kombinasi antara warna dan lambang itu benar-benar luar biasa," tandas perempuan yang juga berprofesi sebagai guru itu.
 
Bahkan, dirinya mengagumi beberapa ide pembangunan dan tata kelola kota yang telah dilakukan Wali Kota Risma seperti  taman, lampu kota dan transportasi. "Saya ingin itu ada di negara Filipina," tegasnya.
 
Pada acara Welcome Dinner tersebut, Wali Kota Risma turut mengajak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan anak jalanan Liponsos Keputih untuk hadir mengisi acara di hadapan para tamu undangan dari beberapa negara, seperti yang dipersembahkan Pina penderita tuna rungu.
 
Pina mempersembahkan dua lukisan kepada delegasi UNICEF salah satunya wajah Karin Hulshof. Terlihat bagaimana raut wajah senang dari Karin setelah melihat hasil karya Pina tersebut. "Cantik sekali gambar ini. Kamu memang hebat," ucapnya kepada Pina. and.dan



Page 7 of 250